Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
APOLEKSOSBUDEkonomi

PT. Dayamitra Telekomunikasi Tbk Gelar Public Expose Tahunan 2026, Tekankan Pentingnya Efisiensi Operasional Melalui Digitalisasi

1602
×

PT. Dayamitra Telekomunikasi Tbk Gelar Public Expose Tahunan 2026, Tekankan Pentingnya Efisiensi Operasional Melalui Digitalisasi

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Pilarnkri.com

 

Example 300x600

Jakarta – PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) menegaskan komitmennya memperkuat posisi sebagai perusahaan infrastruktur telekomunikasi digital melalui diversifikasi bisnis, penguatan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI), serta pengembangan solusi energi terbarukan. Strategi tersebut dipaparkan dalam Public Expose Tahunan MTEL yang berlangsung di Telkom Landmark Tower, Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Selasa (30/6/2026).

Direktur Utama MitraTel ( MTEL ) Teddy Hartoko menjelaskan bahwa transformasi perusahaan tidak lagi hanya bertumpu pada bisnis penyewaan menara telekomunikasi (tower provider). Perseroan kini mengembangkan konsep Next Generation TowerCo dengan memperluas bisnis ke jaringan fiber optik, solusi energi (power solution), serta layanan infrastruktur digital yang mendukung percepatan transformasi industri telekomunikasi nasional.

Hingga pertengahan 2026, MTEL mengoperasikan lebih dari 40 ribu menara telekomunikasi yang tersebar di seluruh Indonesia. Selain itu, perusahaan telah membangun jaringan fiber optik dengan panjang puluhan ribu kilometer yang terus bertambah seiring meningkatnya kebutuhan konektivitas operator seluler dan penyedia layanan digital.

Perseroan menyebut sekitar 58 persen aset infrastrukturnya kini berada di luar Pulau Jawa, sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan trafik data dan pembangunan jaringan telekomunikasi di berbagai wilayah Indonesia. Kondisi tersebut dinilai menjadi peluang strategis bagi MTEL untuk memperluas pangsa pasar sekaligus mendukung pemerataan infrastruktur digital nasional.

Dalam paparannya, Teddy juga menekankan pentingnya efisiensi operasional melalui digitalisasi. Berbagai proses pemantauan aset, inspeksi menara, hingga pengelolaan operasional kini memanfaatkan teknologi berbasis AI sehingga mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya operasional perusahaan.

“Pendekatan teknologi memungkinkan pengelolaan puluhan ribu aset secara lebih efektif tanpa harus menambah sumber daya manusia secara signifikan. Validasi kondisi menara, inspeksi visual, hingga monitoring operasional kini dilakukan secara digital sehingga efisiensi perusahaan terus meningkat,” jelas Teddy.

Di sisi bisnis, pendapatan MTEL masih didominasi penyewaan menara telekomunikasi. Namun kontribusi bisnis fiber optik terus menunjukkan pertumbuhan yang semakin kuat sebagai salah satu sumber pendapatan baru perseroan.

Selain memperluas jaringan digital, MTEL juga mulai mengembangkan Power Solution melalui pemanfaatan energi baru terbarukan. Perseroan telah memasang sistem panel surya (solar panel) di sejumlah lokasi menara sebagai alternatif penyediaan energi bagi operator telekomunikasi.

Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan menghadapi potensi kenaikan biaya energi listrik di masa depan sekaligus mendukung target pengurangan emisi karbon. Dengan memanfaatkan area yang tersedia di sekitar menara, MTEL menilai implementasi panel surya dapat dilakukan secara optimal tanpa memerlukan pembebasan lahan baru.

Manajemen optimistis solusi energi hijau tersebut akan menjadi lini bisnis baru yang mampu meningkatkan efisiensi pelanggan sekaligus memperkuat pendapatan perseroan dalam jangka panjang.

MTEL juga menegaskan bahwa model bisnis perusahaan didukung kontrak jangka panjang dengan para operator telekomunikasi. Sebagian besar kontrak penyewaan menara memiliki masa berlaku hingga 10 tahun sehingga memberikan kepastian arus kas dan pendapatan yang stabil.

Saat ini, kontribusi terbesar pendapatan MTEL masih berasal dari Telkomsel sebagai pelanggan utama, disusul operator telekomunikasi lainnya yang terus memperluas jaringan di berbagai wilayah Indonesia.

Menghadapi 2026, MTEL melihat peluang pertumbuhan industri masih sangat besar. Rencana pemerintah membuka spektrum frekuensi baru, termasuk pita 700 MHz dan 2.600 MHz, diyakini akan mendorong pembangunan jaringan telekomunikasi yang lebih luas, mempercepat implementasi teknologi generasi berikutnya, sekaligus meningkatkan kebutuhan pembangunan menara, fiber optik, dan infrastruktur pendukung lainnya.

” Dengan strategi diversifikasi bisnis, penguatan digitalisasi, pengembangan energi hijau, serta ekspansi infrastruktur nasional, MTEL optimistis mampu menjaga pertumbuhan berkelanjutan sekaligus memperkuat posisinya sebagai pemimpin industri infrastruktur telekomunikasi Indonesia,” tutup Teddy kepada Awak Wartawan.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *