Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
APOLEKSOSBUDEkonomi

Visna Vluovik Tegaskan Pentingnya Menjadikan Sejarah Sebagai Pijakan Dalam Merumuskan Kebijakan Pembangunan, Khususnya Disektor Pertambangan

1701
×

Visna Vluovik Tegaskan Pentingnya Menjadikan Sejarah Sebagai Pijakan Dalam Merumuskan Kebijakan Pembangunan, Khususnya Disektor Pertambangan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Pilarnkri.com

 

Example 300x600

JAKARTA – Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (ILUNI FIB UI), Vlisna Vluovik, menegaskan pentingnya menjadikan sejarah sebagai pijakan dalam merumuskan kebijakan pembangunan, khususnya di sektor pertambangan. Menurutnya, bangsa Indonesia tidak boleh mengulang kesalahan masa lalu yang telah menimbulkan berbagai persoalan sosial dan lingkungan.

Hal itu disampaikan Visna usai menghadiri Diskusi dan Bedah Buku Prahara di Lembah Parau karya Mohamad Irfan di Galeri Pembangunan Indonesia, Gedung Kementerian PPN/Bappenas, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (11/7/2026).

Visna menjelaskan, buku tersebut mengangkat prahara sosial yang pernah terjadi di Indonesia sebagai refleksi untuk meninjau kembali nilai keadilan, kemanusiaan, dan arah pembangunan nasional.

“Sejarah akan terus berulang apabila kita tidak mau belajar dari masa lalu. Baik kegagalan maupun keberhasilan harus menjadi pelajaran bersama agar bangsa ini tidak kembali mengulangi kesalahan yang sama,” ujarnya.

Menurut Visna, salah satu persoalan yang hingga kini masih menjadi pekerjaan rumah adalah tata kelola sektor pertambangan. Ia menilai berbagai konflik di wilayah tambang menunjukkan bahwa pembangunan belum sepenuhnya berpihak kepada masyarakat.

Ia menyoroti kerusakan lingkungan yang terjadi di berbagai daerah, mulai dari banjir akibat kerusakan hutan hingga aktivitas pertambangan ilegal yang berdampak pada rusaknya ekosistem. Meski demikian, ia mengapresiasi berbagai upaya pemerintah, termasuk program reboisasi dan perlindungan sumber daya alam yang tengah didorong Presiden Prabowo Subianto.
Namun demikian, menurutnya, upaya tersebut harus dibarengi dengan perbaikan tata kelola pertambangan secara menyeluruh.
“Sampai hari ini kita hampir tidak menemukan wilayah pertambangan yang masyarakat di sekitarnya benar-benar hidup sejahtera. Yang justru sering terlihat adalah kerusakan lingkungan, pencemaran, dan menurunnya kualitas hidup masyarakat,” katanya.

Visna menilai kondisi tersebut menjadi tanggung jawab bersama, baik pemerintah maupun pelaku usaha pertambangan. Karena itu, ia mendorong lahirnya regulasi yang lebih tegas dan berpihak kepada kepentingan masyarakat.
Menurutnya, pemerintah perlu menyusun kebijakan yang mengatur secara konkret mengenai tata kelola pertambangan, perlindungan hak masyarakat di sekitar wilayah tambang, serta penerapan standar lingkungan yang ketat untuk mencegah pencemaran dan kerusakan alam.
Ia juga mengingatkan agar setiap kebijakan pembangunan tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi benar-benar menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat luas.

“Yang harus menjadi prioritas adalah kepentingan rakyat, bukan hanya kepentingan kelompok pemilik modal. Prinsip keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia harus menjadi dasar dalam setiap kebijakan pembangunan,” tegasnya.

Melalui diskusi dan bedah buku ini, Visna berharap masyarakat semakin memahami pentingnya membaca sejarah secara kritis serta menjadikannya sebagai dasar dalam membangun Indonesia yang lebih adil, berkelanjutan, dan menghargai nilai-nilai kemanusiaan.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *