FOOD ESTATE DEMI KETAHANAN DAN EKSPOR PANGAN

0
26

FOOD ESTATE DEMI KETAHANAN DAN EKSPOR PANGAN

Oleh: Edward Simanungkalit.

Editor Jansen Sinamo

Food Estate adalah lumbung pangan terpadu yang pembangunannya dimotori langsung Presiden Jokowi pertengahan 2020 lalu.

Proyek ini dibangun untuk merespon peringatan Food & Agriculture Organization (FAO) tentang ancaman krisis pangan yang akan mengenai banyak negara akibat pandemi Covid-19. Indonesia termasuk negara yang disebut akan menghadapi krisis itu.

Maka pemerintah bergerak cepat: menyiapkan produksi pangan berskala besar dan berkelanjutan.

Lahan baku sawah baru disiapkan 7 juta hektar lebih.

Juga tambahan areal tanam padi 250 ribu hektar untuk memperkuat cadangan pangan nasional.

Areal tambahan di atas tersebar di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, dan Bengkulu.
***

Food Estate dibangun di Kalimantan Tengah: 1 juta hektar; memproduksi singkong dan padi. Tahap awal 30 ribu hektar padi: 20 ribu hektar di Kabupaten Kapuas dan 10 ribu hektar di Kabupaten Pulang Pisau, masing-masing dengan 6 ton gabah kering per hektar.
***

Tapi Food Estate tidak hanya dimaksud untuk menanggulangi akibat pandemi Covid-19.

Sebelumnya telah terjadi penurunan produksi pangan nasional. Beras turun dari 34 juta ton pada 2018 menjadi 31 juta ton pada 2019.

Sementara impor kedelai dan daging sapi meningkat 88℅ dan 35 % pada 2019, serta impor gula naik 60%.

Penurunan beras di atas karena berkurangnya luas areal tanam. Lahan baku sawah, 8 juta hektar pada 2015, pada 2019 berkurang menjadi 7,5 juta hektar.

Jadi, turunnya produksi pangan sudah terjadi sebelum pandemi Covid-19, sehingga datangnya wabah ini membuatnya makin parah saja.
***

Food Estate juga dibangun di Sumatera Utara, total 61 ribu hektar: masing-masing di Humbang Hasundutan sekitar 22 ribu hektar, Tapanuli Utara 17 ribu hektar, Tapanuli Tengah 13 ribu hektar, dan Pakpak Bharat 9 ribu hektar.

Tahap awal Food Estate Sumut ini: 3 ribu hektar di Humbang Hasundutan. Di awal ini Kementerian Pertanian mengelola 215 hektar dan 785 hektar bersama investor swasta.

Penggarapan 215 hektar di atas melibatkan 7 kelompok tani (poktan), yang menaungi 169 petani di Desa Riaria, Kec Pollung.

Komoditasnya tiga: kentang, bawang merah, dan bawang putih.

Sementara di tiga kabupaten lain masih di tahap persiapan sekarang.
***

Food Estate Sumut ini rencananya 80 persen dikelola masyarakat. Sisanya oleh perusahaan.

Satu keluarga diberi hak mengelola satu hektar; dengan ketentuan lahan itu tidak boleh diperjualbelikan.

Food Estate Sumut akan menggunakan model industri hulu-hilir yang didukung marketplace sebagaimana layaknya pasar modern hortikultura.

Kapasitas para petani akan ditingkatkan melalui kelembagaan ekonomi petani untuk memampukan mereka mengelola rantai produksi, pengolahan, dan pemasaran.

Koperasi merupakan unit usaha kelompok tani agar menjadi korporasi petani hortikultura di tiap kabupaten.
***

Presiden Jokowi menginstruksikan pengembangan korporasi petani sebagai basis ekonomi Food Estate adalah untuk menjamin para stakeholder mendapat laba yang adil, sedangkan kalau merugi akan ditanggung bersama-sama.

Presiden ingin proses bisnisnya terintegrasi melalui korporasi petani, yang akan terus disempurnakan, untuk menjadi contoh bagi semua provinsi lain.
***

Di Bengkulu akan dibangun Food Estate 30 ribu hektar singkong. Di provinsi lain pun akan dibangun juga Food Estate.

Kalimantan Tengah Sumatera Utara, dan Bengkulu menjadi percontohan bagi semua provinsi lain.
***

Food Estate ini adalah usaha pemerintah Jokowi untuk meningkatkan ketahanan pangan nasional: yakni ketersediaan pangan dalam jumlah yang cukup–jenis, variasi, dan volumenya–bagi seluruh rakyat Indonesia.
***

Lebih dari itu, Food Estate juga dimaksudkan agar Indonesia mampu menjadi pengekspor bahan pangan.

Selama ini Indonesia terlalu banyak mengimpor berbagai jenis bahan pangan: gandum, beras, jagung, dan kedelai; bahkan bawang merah, bawang putih, dan buah-buahan. Juga daging, ikan, dan gula.

Semua impor raksasa di atas menghabiskan devisa yang sangat besar sehingga secara perdagangan internasional Indonesia selalu tekor.

Diharapkan dengan Food Estate ini di semua provinsi, Indonesia akan berubah menjadi pengekspor bahan pangan ke seluruh dunia.

(Oleh: Edward Simanungkalit. Editor Jansen Sinamo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here