Pilarnkri.com
Jakarta,- Rektor Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Prof. Dr. M. Syamsul Maarif, menegaskan bahwa perguruan tinggi seni memiliki peran strategis dalam mencetak generasi muda yang kreatif dan mampu menciptakan lapangan kerja melalui ekonomi kreatif, bukan sekadar menjadi pencari kerja.
Hal itu disampaikannya usai Seminar dan Talk Show bertajuk “Creative Economy: Dari Ide Kreatif Menjadi Bisnis Berkelanjutan”, hasil kolaborasi Diktisaintek Berdampak, Komisi X DPR RI, dan Institut Kesenian Jakarta, Selasa (7/7/2026).
Menurut Prof. Syamsul, pemerintah perlu memberikan ruang tumbuh bagi usaha rintisan (startup) dan pelaku usaha kreatif dengan tidak membebani mereka sejak awal melalui berbagai biaya maupun pungutan.
“Biarkan industri kreatif tumbuh lebih dahulu. Ketika usahanya sudah berkembang dan memperoleh keuntungan, barulah ada mekanisme berbagi atau kontribusi kepada negara. Kalau sejak awal dibebani, justru usahanya bisa mati,” ujarnya.
Ia mencontohkan pengalaman yang ditemuinya di Prancis, di mana startup mendapat dukungan dari pemerintah dan industri hingga mampu berkembang. Jika berhasil, barulah ada mekanisme pembagian keuntungan sesuai kesepakatan.
Mahasiswa IKJ Banyak Sukses Sebelum Lulus
Prof. Syamsul mengungkapkan, banyak mahasiswa IKJ yang sudah terjun ke industri kreatif bahkan sebelum menyelesaikan kuliah. Sebagian memilih menunda studi karena telah memperoleh pekerjaan maupun proyek berskala nasional hingga internasional.
“Yang belum lulus pun banyak yang sudah bekerja. Bahkan ada yang sudah berkiprah di level internasional,” katanya.
Untuk mengakomodasi kondisi tersebut, IKJ membuka program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) sehingga pengalaman profesional mahasiswa dapat dikonversi menjadi bagian dari proses akademik hingga akhirnya memperoleh gelar sarjana.
AI Harus Menjadi Penguat Seni
Menghadapi perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), IKJ juga terus menyesuaikan kurikulum agar mahasiswa mampu memanfaatkan teknologi sebagai pendukung kreativitas.
Menurut Prof. Syamsul, AI bukanlah ancaman bagi dunia seni, melainkan alat yang dapat memperkuat proses berkarya.
“Seni tetap membutuhkan rasa. AI bisa membantu proses kreatif, tetapi tidak bisa menggantikan sentuhan dan kepekaan seorang seniman. Karena itu teknologi harus dimanfaatkan sebagai penguat karya seni,” jelasnya.
IKJ, lanjutnya, juga tengah mengembangkan kurikulum yang mengintegrasikan teknologi digital dan AI agar lulusannya siap menghadapi perkembangan industri kreatif masa depan.
Harapkan Dukungan Pemprov DKI Jakarta
Prof. Syamsul juga berharap Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur dapat terus memberikan perhatian terhadap pengembangan seni dan budaya.
Menurutnya, sejak awal IKJ merupakan mitra strategis Pemprov DKI Jakarta dalam pengembangan seni dan budaya.
“IKJ siap menjadi dapur kreativitas bagi Jakarta. Kami ingin mendukung cita-cita menjadikan Jakarta sebagai kota seni, budaya, dan kota sinema,” ungkapnya.
Salah satu gagasan yang tengah didorong adalah pengembangan kawasan Kota Tua sebagai ruang pertunjukan seni dan pusat kegiatan perfilman yang melibatkan komunitas kreatif serta mahasiswa vokasi.
Fokus Mencetak Pencipta Lapangan Kerja
Prof. Syamsul menegaskan bahwa lulusan IKJ diarahkan untuk membangun usaha kreatif sendiri sehingga mampu membuka lapangan pekerjaan.
Ia menyebut, sekitar 85 persen insan perfilman Indonesia, baik sutradara, penulis skenario, maupun kru film, berasal dari atau memiliki keterkaitan dengan IKJ.
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya berpikir mencari pekerjaan, tetapi juga mampu menciptakan pekerjaan melalui kreativitas yang dimiliki. Itulah semangat ekonomi kreatif yang terus kami bangun di IKJ,” pungkasnya (P)



















