Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Nasional

Panas Bumi Jadi Kunci Ketahanan Energi dan Transisi Hijau, PGE Dorong Penguatan Ekosistem Panas Bumi Nasional

4906
×

Panas Bumi Jadi Kunci Ketahanan Energi dan Transisi Hijau, PGE Dorong Penguatan Ekosistem Panas Bumi Nasional

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Panas Bumi Jadi Kunci Ketahanan Energi dan Transisi Hijau, PGE Dorong Penguatan Ekosistem Panas Bumi Nasional

 

Example 300x600

JAKARTA, Pilarnkri.com

 

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) menegaskan komitmennya untuk mempercepat pengembangan energi panas bumi sebagai salah satu pilar ketahanan energi nasional sekaligus mendukung percepatan transisi menuju energi bersih.

 

Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Utama PGE Ahmad Yani dalam paparan utama pada Seminar Nasional Energy Week 2026 yang diselenggarakan di Auditorium Lantai 3, Gedung BJ Habibie BRIN, Jakarta Pusat, Selasa (22/9/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Ahmad Yani menjelaskan bahwa energi panas bumi memiliki karakteristik sebagai sumber energi terbarukan yang dapat menyediakan listrik secara stabil dan berkelanjutan. Dengan karakteristik baseload serta capacity factor yang dapat mencapai lebih dari 90%, panas bumi memiliki peran strategis dalam mendukung keandalan sistem kelistrikan nasional di tengah meningkatnya kebutuhan energi dan dinamika pasokan energi global.

“Indonesia memiliki potensi panas bumi yang sangat besar, mencapai sekitar 24 Gigawatt (GW). Saat ini PGE mengelola potensi sebesar 3 GW di 15 Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) dan siap mengakselerasi pengembangan kapasitas hingga 1 GW pada 2028 dan 1,8 GW pada 2033,” ujar Ahmad Yani.

Membangun Ekosistem Geothermal yang Terintegrasi

Menurut Ahmad Yani, besarnya potensi panas bumi Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan dalam pengembangannya. Salah satunya adalah ekosistem yang masih terfragmentasi, mulai dari pengelolaan sumber daya, proses pengembangan proyek, penyediaan infrastruktur, hingga kesiapan offtaker.

Karena itu, diperlukan penguatan ekosistem geothermal yang lebih terintegrasi untuk menciptakan kepastian dan efisiensi dalam pengembangan proyek panas bumi. Penguatan tersebut juga perlu didukung oleh regulasi dan skema keekonomian yang mampu meningkatkan daya tarik investasi.

“Pengembangan geothermal membutuhkan ekosistem yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Dukungan regulasi, skema tarif yang adaptif, serta kepastian dalam pengembangan pasar karbon menjadi bagian penting untuk menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif,” jelas Ahmad Yani.

PGE juga mendorong penguatan kebijakan melalui revisi Perpres 112 serta kepastian mekanisme carbon offset sebagai bagian dari upaya meningkatkan keekonomian proyek dan menarik investasi hingga sekitar US$6,46 miliar.

Melampaui Pembangkit Listrik melalui Beyond Electricity

Di sisi lain, PGE terus mengembangkan pemanfaatan panas bumi tidak hanya untuk pembangkitan listrik, tetapi juga melalui konsep Beyond Electricity dan pemanfaatan langsung (direct use) yang dapat memberikan nilai tambah bagi industri dan masyarakat.

Salah satu inisiatif yang dikembangkan adalah produksi green hydrogen di Area Ulubelu. PGE menargetkan produksi awal sebesar 100 kilogram/H2 per hari mulai November sebagai bagian dari pengembangan ekosistem energi hijau berbasis panas bumi.

PGE juga mengembangkan pemanfaatan langsung energi panas bumi untuk mendukung kegiatan industri dan UMKM, antara lain melalui pengolahan gula serta pemanfaatan potensi mineral untuk mendukung bahan baku pupuk. Pemanfaatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah produk lokal sekaligus mendorong kegiatan ekonomi dengan jejak karbon yang lebih rendah.

Selain itu, PGE melihat peluang pengembangan ekosistem industri hijau melalui dukungan terhadap green data center serta kolaborasi pengembangan transportasi bersih berbasis hidrogen (hydrogen mobility) bersama mitra strategis.

“PGE berkomitmen untuk terus mengembangkan panas bumi tidak hanya sebagai sumber listrik, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem ekonomi hijau yang menciptakan nilai tambah bagi industri dan masyarakat. Dengan kolaborasi dan ekosistem yang semakin kuat, kami optimistis Indonesia dapat memperkuat posisi sebagai salah satu pemimpin geothermal dunia sekaligus menghasilkan dampak ekonomi hijau yang nyata,” pungkas Ahmad Yani.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *