Talkshow “3 Kebahagiaan Sejati Bagi Wanita” Datangkan Manfaat dan Pelajaran Berharga Bagi Pria
JAKARTA, 15 September 2026 —
Acara talkshow bertajuk “3 Kebahagiaan Sejati Bagi Wanita” yang digelar di Gereja GPSI Pancaran Kasih Allah (GPSI PKA), Jl. RS Fatmawati 1-K, Jakarta Selatan, pada Selasa (15/9) pukul 13.00–15.00 WIB, tidak hanya memberikan inspirasi mendalam bagi kaum wanita, tetapi juga membawa pesan penting serta manfaat nyata bagi para pria.
Acara yang diselenggarakan oleh panitia GPSI PKA ini dilaksanakan dalam rangka mengenang almarhumah Ibu Joke Jemima Raturandang Sumual, sosok perempuan inspiratif yang juga merupakan salah satu tim pendiri Gereja GPSI PKA.
Pembahasan talkshow ini difokuskan pada tiga dimensi utama kehidupan wanita:
1. Sukses dalam kerohanian (berakar kuat dalam Tuhan).
2. Sukses dalam pekerjaan atau karya (menghasilkan buah yang bermanfaat).
3. Menjadi panutan yang memberikan arti bagi keluarga dan sesama.
Pesan Penting Bagi Para Pria: Kebahagiaan Pasangan Adalah Kunci Kedamaian Rumah
Meski berfokus pada wanita, pesan utama dari talkshow ini sangat relevan bagi kaum pria.
Kebahagiaan seorang wanita di dalam rumah tangga bukanlah urusan wanita semata. Pria yang mendukung pertumbuhan iman, karya, dan kebahagiaan pasangannya akan merasakan dampak positif yang besar: suasana rumah yang lebih damai, komunikasi yang lebih lancar, serta hubungan yang makin harmonis.
Acara ini menekankan beberapa pelajaran sederhana namun krusial bagi para pria:
*Mendengarkan dengan Sungguh-Sungguh: Kehadiran hati dan telinga yang mau memahami sering kali lebih dibutuhkan daripada memberikan nasihat atau menyudahi percakapan dengan kalimat seperti “Kan sudah saya bilang.”
*Kepemimpinan yang Sehat melalui Dukungan: Kepemimpinan pria tidak selalu diukur dari seberapa banyak ia berbicara, melainkan dari tindakan nyata dalam mendukung pasangan—seperti mengantar-jemput, menjaga anak, atau memastikan pasangan memiliki waktu untuk bertumbuh tanpa terburu-buru.
Kesan dari Moderator dan Panitia
Julian Albert Saul, yang bertindak sebagai moderator acara sekaligus seorang Professional Trainer di salah satu Bank Internasional, mengungkapkan kesannya terhadap acara ini.
”Pekerjaan saya secara profesional adalah menghasilkan training berkelas bagi peserta. Namun, justru di acara ini saya mendapatkan informasi dan wawasan yang belum pernah saya dengar sebelumnya, yaitu memahami seorang wanita secara utuh. Saya sangat berterima kasih untuk pengetahuan ini. What a wonderful event,” ujar Julian Albert Saul.
Senada dengan Julian, Fajar, perwakilan panitia acara sekaligus pelayan di Gereja GPSI PKA, memberikan kesaksian mengenai keteladanan almarhumah Ibu Joke.
”Saya sebagai saksi hidup melihat langsung kiprah dan kepiawaian almarhumah Ibu Joke Jemima Raturandang Sumual dalam menerapkan ‘3 Kebahagiaan Sejati’ ini: berbuah di bidang rohani, sukses di pekerjaan, dan menjadi panutan bagi keluarga. Saya patut berkata: Puji Tuhan & Terima Kasih Tante Joke,” tutur Fajar.
Mengenang Melalui Warisan Nilai dan Kebersamaan
Mengenang almarhumah Ibu Joke Jemima Raturandang Sumual bukan sekadar mengingat masa lalu. Melalui talkshow ini, nilai-nilai kebaikan, iman, karya, dan perhatian kepada keluarga yang pernah beliau jalani diubah menjadi inspirasi konkret untuk masa kini dan masa depan.
Bagi kaum pria, pesan ini menjadi pengingat bahwa menjadi pasangan, ayah, saudara, atau sahabat yang baik tidak menuntut seseorang untuk menjadi “pahlawan super”. Cukup dengan hadir, setia, mau belajar, dan saling bahu-membahu dalam mengurus kehidupan rumah tangga.
Sebagai penggagas acara “3 Kebahagiaan Sejati Bagi Wanita”, Ferdo Raturandang menyampaikan refleksi penutup yang menyentuh hati:
”Sebab kebahagiaan sejati bukan perlombaan antara pria dan wanita, melainkan perjalanan bersama—dengan iman sebagai arah, kasih sebagai bahan bakar, dan humor sebagai perlengkapan darurat ketika menikmati hidup yang dianugerahkan Tuhan Yesus. Terima kasih, Mama…,” ungkap Ferdo Raturandang menutup sesi wawancara eksklusif.
Dari GPSI PKA, sebuah pesan sederhana namun berdaya ubah kembali digaungkan: Hidup yang diberkati adalah hidup yang tidak berhenti pada diri sendiri, melainkan hidup yang terus menjadi berkat bagi orang lain serta membangun keluarga yang saling mendukung, menghargai, dan bertumbuh bersama.



















