Pilarnkri.com
Jakarta, Asosiasi Pemasok Energi dan Batubara Indonesia ASPEBINDO mengadakan rakernas II dengan tema Indonesia Energy and Mineral Conference 2022 yang digelar di Hotel Darmawangsa Jakarta pada hari Senin, 19 Desember 2022.
Muhammad Arif sebagai Sekjen ASPEBINDO memberikan keterangan pers seusai diskusi ASPEBINDO kepada media elektronik bahwa ; “Hari ini kita melaksanakan Rakernas II ASPEBINDO yaitu ada 2 agenda, yaitu rapat kerja nasional dan konferens, dimana di konferens ini memang kita mengangkat beberapa sektor energi yang dinaungi oleh ASPEBINDO karena ASPEBINDO ini bukan hanya batu bara saja tetapi ada penambahan mineral di nomenklatur pengurusan kita sehingga nikel dan energi terbarukan juga masuk dalam ssktor-sektor yang dinaungi oleh ASPEBINDO. Jadi dari 2 sesi seminar tersebut yaitu sesi pertama itu membahas investment outlook yang membicarakan road map terkait energi dari beberapa sektor yaitu dari pemerintahan maupun swasta, Bukit Asam, Freeport, SKK Migas, PLN Asosiasi Semen Indonesia, Menkomarvest dkl. Dimana dalam diskusi ini juga membahas peluang bisnis maupun pandangan masing-masing pihak terkait sektor energi.
Kalau kita berbicara batubara yang harganya saat ini tinggi sepanjang sejarah yang challenge nya masuk dalam pasokan domestik terutama di PLN, Semen Indonesia dicap harganya tahun lalu kita mengalami krisis energi hingga beberapa pemasok akhirnya banyak ke ekspor dan banyak disparitas harga yang terlalu jauh hingga di domestik ini agak kewalahan jadi dari pemerintah sendiri sudah memberikan terobosan-terobosan seperti ada aturan DMO yang diperketat, aturan ekspor yang semakin diperketat sehingga ini menjadi terobosan yang memperlancar di tahun ini dan tahun depan juga banyak dibicarakan oleh Kemenkomarvest menyampaikan bahwa agenda BLU agar segera dilaksanakan, dengan adanya BLU itu harapannya adalah ada subsidi silang dari pelaku eksport sehingga harga di domestik ini setidaknya bisa menyamai harga pasar yang membuat ketahanan energi di Indonesia ini untuk domestik bisa terjaga.
Kalau kita berbicara energi primer, batubara challenge nya sekarang lebih ke transportasi semen tongkang itu juga ditracking karena secara jumlah itu armada tracking dan tongkang itu terbatas tetapi kita harus berebut dengan pemain eksport dan spekulasi harga yang tinggi yang menjadi masalah utama disisi energi primer sedangkan di renewables memang dari sisi regulasi energi terbarukan ini masih banyak secara komersial yang juga masih kurang bisa bersaing dengan energi primer sehingga yang dipesan dari teman-teman PLN bilang ada trilema antara energi sekuriti affordablitinya sama juga agenda pemerintah untuk energi terbarukan, jadi ada tiga pemikiran ini yang sangat trilematis dari energi terbarukan.
Kalau untuk batubara kita berharap BLU segera diterapkan karena kita juga sadar bagaimana teman-teman PLN bekerja keras untuk mentekel krisis energi tahun lalu sehingga masalah ini bisa disolve dengan adanya komersil yang baik dan benar berarti harus diikuti dengan market price tinggal kita menunggu dari Kementerian Keuangan untuk ketuk peraturannya dari sisi renewable yang dari PLN itu sendiri selain infrastruktur jadi bagaimana mendistribusikan listrik dengan baik dan benar”, tutupnya.



















