Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
APOLEKSOSBUDEkonomi

ICMI Bersama Dengan KKDC Serta Bank Mega Syariah Gelar Green Education Bertema ” Membentuk Generasi Cerdas Berkarakter Dan Peduli Lingkungan” Di Jakarta

1892
×

ICMI Bersama Dengan KKDC Serta Bank Mega Syariah Gelar Green Education Bertema ” Membentuk Generasi Cerdas Berkarakter Dan Peduli Lingkungan” Di Jakarta

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Pilarnkri.com

 

Example 300x600

JAKARTA — Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Koperasi Kencana Dharma Cendekia (KKDC) dan Bank Mega Syariah berkolaborasi mendorong gerakan Green Education untuk membentuk generasi yang cerdas, berkarakter, aktif, sehat, sekaligus memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Gagasan tersebut mengemuka dalam forum “Green Education: Membentuk Generasi Cerdas, Berkarakter, dan Peduli Lingkungan” yang digelar di Ballroom Menara Mega Syariah, Jakarta, Kamis (10/09/2026).

Program tersebut dirancang sebagai forum diskusi, edukasi dan sosialisasi pendidikan berkelanjutan dengan mengintegrasikan hobi, minat, kegiatan ekstrakurikuler, olahraga, serta pengalaman langsung dengan alam. Selain membangun kesadaran ekologis sejak dini, kegiatan ini juga mendorong terciptanya ekosistem pendidikan transformatif dan memberikan dukungan digital berupa Learning Management System (LMS) secara gratis bagi sekolah yang terdaftar.

Wakil Ketua Orwil ICMI DKI Jakarta Lukman Hakim dalam sambutannya menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menjadikan pendidikan sebagai bagian dari solusi terhadap berbagai tantangan masa depan. Menurutnya, gagasan Green Education perlu diterjemahkan menjadi program nyata yang dapat memberikan manfaat bagi sekolah, masyarakat, desa dan generasi muda.

Ketua Koperasi Kencana Dharma Cendekia MPP ICMI Rhesa Yogaswara, MM, MF, mengatakan, program tersebut merupakan bentuk konkret kolaborasi ICMI dengan berbagai pihak, termasuk Bank Mega Syariah. Ia menjelaskan bahwa KKDC dibangun dengan semangat “Kolaborasi Kota, Desa dan Cendekia” untuk ikut mendorong pembangunan Indonesia yang dimulai dari desa.

Sementara itu, Ketua Koperasi Pangan Cendekia Indonesia MPP ICMI Dr. Marwah Daud Ibrahim mengatakan, Green Education tidak semata-mata berbicara tentang lingkungan, tetapi merupakan pendidikan tentang kehidupan. Ia mencontohkan bagaimana seorang anak dapat belajar sains, matematika, biologi, teknologi, ekonomi, kewirausahaan hingga kerja sama hanya dengan melihat proses pangan dari sawah sampai menjadi nasi di meja makan.

“Pendidikan sesungguhnya tidak pernah jauh dari kehidupan. Ketika anak berada di tengah sawah, melihat air mengalir, petani bekerja, tanaman tumbuh, serta proses gabah menjadi beras dan akhirnya menjadi nasi, di situlah sesungguhnya pendidikan terjadi,” kata Marwah.

Menurut Marwah, konsep tersebut juga menjadi jawaban atas tantangan desa penghasil pangan yang masih menghadapi persoalan keterbatasan lapangan kerja dan menariknya masa depan bagi generasi muda. Karena itu, anak muda tidak cukup hanya diajak kembali ke desa, tetapi harus didorong membangun desa dengan teknologi, inovasi, industri dan nilai tambah.

“Anak yang pintar harus ikut menggunakan sawah. Anak muda yang menguasai teknologi harus masuk pertanian. Gunakan drone, sensor, data, kecerdasan buatan, mesin pertanian, pemasaran digital dan sistem keuangan modern,” ujarnya.

Marwah juga mendorong pengembangan integrated farming yang menghubungkan sawah, kebun, perikanan, peternakan, kompos, energi, pengolahan pangan, koperasi hingga pasar. Dengan konsep tersebut, hasil pertanian tidak berhenti sebagai bahan mentah, tetapi diolah di desa sehingga menciptakan nilai tambah, pendapatan dan lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

Sebagai langkah awal, ICMI bersama para mitra menyiapkan pilot project Green Education di Desa Wanasari, Indramayu, Jawa Barat. Desa tersebut diarahkan menjadi living classroom, tempat siswa dapat belajar secara langsung melalui aktivitas pertanian, peternakan, perikanan, pengolahan pangan dan lingkungan. Siswa nantinya dapat mengikuti pengalaman “sehari menjadi petani”, mulai dari menanam, merawat, memanen, mengolah, mengemas hingga memahami proses pemasaran.

Marwah berharap Wanasari tidak berhenti sebagai proyek percontohan, tetapi menjadi titik awal gerakan nasional Green Education. Ia bahkan menggagas visi seribu living classroom, jutaan siswa yang memperoleh pengalaman belajar berbasis alam, serta pengembangan wakaf produktif untuk mendukung ekosistem ekonomi desa.

“Sekolah tidak lagi hanya berada di dalam gedung. Sawah adalah kelas, kebun adalah kelas, peternakan adalah kelas, alam adalah guru, petani adalah guru dan pengalaman adalah metode pembelajaran,” tuturnya.

Vice President PT ESG-IN Global Partners Yayang Ruzaldy dalam paparannya mengatakan, Green Education harus mampu mengubah pengetahuan menjadi tindakan nyata yang terukur. Menurutnya, isu keberlanjutan kini telah berkembang menjadi peluang ekonomi melalui green job, green industry, green agriculture, green technology dan green finance.

Yayang menjelaskan, sekolah dapat dikembangkan sebagai living green laboratory melalui berbagai kegiatan seperti urban farming, pengelolaan sampah, efisiensi energi dan air, penghijauan serta pemanfaatan teknologi digital. Aktivitas tersebut perlu dicatat dan diukur sehingga menghasilkan data dampak lingkungan, sosial dan ekonomi yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Green education tidak boleh berhenti pada pengetahuan. Pendidikan harus menghasilkan kesadaran dan tindakan nyata. Kita bisa mengukur apa yang dilakukan, memperbaikinya, memverifikasinya dan kemudian memberikan nilai terhadap dampak yang dihasilkan,” jelas Yayang.

Ia menambahkan, gerakan tersebut membutuhkan kolaborasi siswa, guru, keluarga, masyarakat, pemerintah, lembaga keuangan, dunia usaha, teknologi, koperasi hingga bank sampah. Dengan ekosistem tersebut, Green Education diharapkan melahirkan green talent seperti green entrepreneur, ahli energi terbarukan, analis data lingkungan, spesialis iklim, profesional ESG, pengembang teknologi hijau dan profesional green finance menuju Indonesia Emas 2045.

Melalui kolaborasi ICMI, KKDC, Bank Mega Syariah dan berbagai pemangku kepentingan, gerakan Green Education diharapkan tidak berhenti pada seminar, tetapi berkembang menjadi aksi berkelanjutan dengan indikator yang jelas. Ukurannya antara lain jumlah siswa yang belajar langsung dengan alam, peningkatan pendapatan petani, produktivitas desa, aset wakaf yang menjadi produktif, pengurangan sampah dan penciptaan lapangan kerja. Dengan demikian, desa tidak lagi dipandang sebagai halaman belakang, melainkan sebagai salah satu halaman depan pembangunan Indonesia.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *