Pilarnkri.com
JAKARTA — Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Koperasi Kencana Dharma Cendekia (KKDC) dan Bank Mega Syariah berkolaborasi mendorong pengembangan Green Education sebagai upaya membentuk generasi cerdas, berkarakter dan peduli lingkungan. Program bertema “Green Education: Membentuk Generasi Cerdas, Berkarakter, dan Peduli Lingkungan” tersebut digelar di Ballroom Menara Mega Syariah, Jakarta, Kamis (10/09/2026).
Kegiatan ini menjadi forum diskusi, edukasi dan sosialisasi pendidikan berkelanjutan dengan menghadirkan gagasan tentang pentingnya mengintegrasikan kepedulian lingkungan ke dalam proses pendidikan. Selain itu, program tersebut diarahkan untuk membangun ekosistem pendidikan transformatif yang menghubungkan pengetahuan, karakter, aksi lingkungan dan peluang ekonomi masa depan.
Vice President & Indonesia Regional Head PT ESGIN Global Partners, Yayang Ruzaldy, mengatakan generasi muda dan pelajar memiliki posisi strategis dalam menentukan arah pembangunan Indonesia ke depan. Menurutnya, bonus demografi Indonesia yang didominasi penduduk usia muda merupakan peluang sekaligus tantangan yang harus dipersiapkan dengan baik.
“Generasi muda adalah ujung tombak bagaimana bangsa Indonesia tumbuh dan berkembang di masa yang akan datang. Kita harus mampu menumbuhkembangkan generasi muda agar menjadi motor perekonomian di masa depan, khususnya dalam menyambut Indonesia Emas 2045,” ujar Yayang ditemui di sela-sela acara.
Ia menegaskan, tantangan utama menuju Indonesia Emas bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga keberlanjutan lingkungan. Menurutnya, isu lingkungan saat ini telah mengalami perubahan dimensi, dari yang sebelumnya dipandang sebatas kewajiban menjadi bagian dari peluang dan motor perekonomian baru.
Yayang menjelaskan, perkembangan ekonomi hijau tidak terlepas dari komitmen global melalui Paris Agreement 2015 yang kemudian diratifikasi Indonesia melalui Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2016. Kebijakan tersebut turut menjadi landasan berkembangnya sistem nilai ekonomi karbon di Indonesia, yang membuka peluang baru dari aktivitas mitigasi dan pengurangan emisi.
“Artinya, nilai ekonomi karbon adalah sistem perekonomian baru yang menempatkan aksi mitigasi lingkungan sebagai mesin ekonomi baru. Ada peluang ekonomi yang bisa dibuka dari berbagai sektor, termasuk kehutanan, energi terbarukan, efisiensi energi, pertanian, pengelolaan sampah dan sektor lainnya,” jelasnya.
Menurut Yayang, perkembangan tersebut turut melahirkan kebutuhan terhadap green job yang dapat menjadi salah satu bidang pekerjaan masa depan bagi generasi muda. Karena itu, pendidikan mengenai lingkungan dan ekonomi hijau harus diperkenalkan sejak dini agar generasi muda tidak hanya memiliki kemampuan intelektual, tetapi juga kemampuan melakukan aksi lingkungan yang memiliki dampak nyata.
“Green education menjadi fondasi yang sangat kritikal. Sekolah menjadi tempat membangun kultur dan mengedukasi peluang green economy. Di sana kapasitas intelektual bertemu dengan kemampuan melakukan aksi lingkungan, sehingga green economy dengan potensi green job-nya bisa bertemu antara hulu dan hilir,” katanya.
Ia menilai ICMI memiliki posisi strategis untuk mendorong agar konsep Green Education tidak berhenti pada forum diskusi, tetapi benar-benar diterapkan di sekolah-sekolah di berbagai daerah. Pendidikan lingkungan, menurutnya, harus diarahkan menjadi gerakan yang menghasilkan manfaat sosial sekaligus membuka peluang ekonomi bagi generasi muda.
Yayang juga melihat peluang besar bagi pelajar dan mahasiswa untuk mengembangkan berbagai inisiatif maupun startup berbasis green economy. Namun, agar potensi tersebut berkembang, dibutuhkan ekosistem yang mampu mempertemukan ide, regulasi, pembiayaan, teknologi, dunia usaha dan masyarakat.
“Regulasinya sudah sangat mendukung. Tinggal bagaimana pematangan ekosistem. Ekosistem ini harus dipertemukan, dijembatani, dielaborasi dan diorkestrasi agar gagasan bisa menjadi aksi nyata, dampak nyata dan gerakan nyata,” tegasnya.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi multisektoral dengan melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas dan lembaga keuangan. Menurutnya, politisi dapat membangun kerangka regulasi, kalangan intelektual mengembangkan pengetahuan dan edukasi, sementara dunia usaha mengakselerasi potensi ekonominya.
“Ketika tiga stakeholder ini bertemu, kemudian diperkuat komunitas dan elemen masyarakat, maka kita bisa membangun gerakan yang lebih besar. Yang dibutuhkan adalah kepemimpinan hijau untuk mengarusutamakan bukan hanya isu lingkungan, tetapi juga gerakannya,” ungkap Yayang.
Ia berharap implementasi Green Education ke depan dapat menyentuh langsung sekolah dan kampus melalui berbagai aksi lingkungan yang memberikan pengalaman sekaligus manfaat ekonomi. Salah satu gagasan yang didorong adalah kegiatan kewirausahaan sosial di kalangan pelajar dan mahasiswa, sehingga aksi lingkungan dapat berkembang menjadi kegiatan produktif.
Yayang menambahkan, kolaborasi ICMI, KKDC dan Bank Mega Syariah diharapkan menjadi langkah awal membangun kesepahaman sekaligus ekosistem Green Education yang berkelanjutan. Dengan mempersiapkan mentalitas, pengetahuan dan keterampilan generasi muda sejak sekarang, Indonesia diharapkan memiliki green talent yang mampu mengisi sekaligus menciptakan lapangan kerja baru menuju Indonesia Emas 2045.



















