Mawardin Zega, Sekjen MUKI: Mencintai Indonesia, Mencintai Nusantara

0
212

Dalam sebuah percakapan di WA group seorang teman menolak penyebutan Nusantara, alasannya sederhana. Menurutnya kata Nusantara adalah mimpi zaman dulu, mimpinya Gajahmada tentang Majapahit yang sudah lama runtuh. Lebih lanjut diuraikan Nusantara istilah yang sukar dipahami sekaligus mengundang kontroversi, karena akan membawa kita kepada mitos-mitos masa lalu.

Aku memang sedikit terganggu pada pendapat itu. Dalam jalan pikiranku yang pendek (walaupun bukan sumbu pendek) ada sedikit keraguan, apakah frasa Nusantara sedemikian kerdil atau memang segaja dikerdilkan sehingga tak lagi menjadi kebangaan sebagaimana pada zaman dan masa-masa sebelumnya.

Ah, tunggu dulu. Mari sejenak belajar pada sumber pasti, lihat sesungguhnya arti kata Nusantara. Dan rujukan kita adalah KUBI yang memberi arti: nusantara sebutan (nama) bagi seluruh wilayah kepulauan Indonesia, begitulah kamus Indonesia menjelaskan artinya.

Nusantara merupakan istilah yang dipakai untuk menggambarkan wilayah kepulauan yang membentang dari Sumatera sampai Papua, yang sekarang sebagian besar merupakan wilayah negara Indonesia. Kata ini tercatat pertama kali dalam literatur berbahasa Jawa Pertengahan (abad ke-12 hingga ke-16) untuk menggambarkan konsep kenegaraan yang dianut kerajaan Majapahit.

Kerajaan Majapahit adalah sebuah kerajaan yang berpusat di Jawa Timur, yang pernah berdiri sekitar tahun 1293 hingga 1500 M. Kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya menjadi kemaharajaan raya yang menguasai wilayah yang luas di Nusantara pada masa kekuasaan Hayam Wuruk, yang berkuasa dari tahun 1350 hingga 1389, masa dimana Patih Gajahmada menyampaikan Sumpah Palapa.

Pada awal abad ke-20 istilah nusantara dihidupkan kembali oleh Ki Hajar Dewantara sebagai salah satu nama alternatif untuk negara merdeka pelanjut Hindia Belanda yang belum terwujud. Ketika penggunaan nama Indonesia disetujui untuk dipakai untuk ide itu, kata Nusantara tetap dipakai sebagai sinonim untuk kepulauan Indonesia.

Teringat aku ketika zaman kanak-kanak frasa Nusantara begitu akrab di teliga, ia menjadi judul lagu menarik dan merakyat dari band legendaris Koesplus. Lagu Nusantara 5 adalah lagu yang bisa dinyanyikan oleh siapa saja zaman itu, ia adalah lagu yang menggambarkan semangat dan kebanggaan untuk penyebutan Indonesia sebagai Nusantara. simaklah syairnya dan rasakan getarnya:

“Ribuan pulau bergabung menjadi satu.
Sebagai ratna mutu manikam. Nusantara oh nusantara. Berlimpah limpah kekayaan Nusantara, tiada dua dimana jua. Nusantara oh Nusantara.
Siapa tak kenal Nusantara, siapa tak suka Nusantara, siapa tak sayang Nusantara oh nusantara.
Alamnya indah serta udaranya cerah
menjadi kebanggan semua. Nusantara oh nusantara. Aneka bunga terhampar sekitar kita, seakan ada di dalam surga, Nusantara oh nusantara.”

Jadi sesungguhnya Nusantara adalah kebanggaan, tak perlu dikerdilkan artinya, ia rujukan pada kebanggaan masa lalu dari suatu bangsa yang dulu pernah ada dipersada bumi Pertiwi. Gajahmada bukanlah mitos, sumpah palapa bukan cerita khayal, nusantara bukan sekedar nama, ia adalah roh yang mengikat kesatuan kita sebagai suatu negara bangsa dalam bingkai yang tak boleh retak sedikitpun itulah Negara Kesatuan Republik Indonesia, harga mati.

Ega Mawardin ll Sekjen DPP MUKI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here