Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
APOLEKSOSBUDEkonomi

LPEM FEB UI Gelar Diskusi Publik Bertema ” Mengurai Risiko Pasar Dalam Hilirisasi Mineral Kritis Indonesia: Membangun Rantai Pasok Yang Tangguh ” Di Aula MPKP UI, Salemba Jakarta

1898
×

LPEM FEB UI Gelar Diskusi Publik Bertema ” Mengurai Risiko Pasar Dalam Hilirisasi Mineral Kritis Indonesia: Membangun Rantai Pasok Yang Tangguh ” Di Aula MPKP UI, Salemba Jakarta

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Pilarnkri.com

 

Example 300x600

Jakarta,- Penguatan riset dan pengembangan (R&D), diversifikasi teknologi, ketahanan rantai pasok, serta kepastian iklim investasi dinilai menjadi faktor krusial untuk memperkuat daya tahan hilirisasi mineral kritis Indonesia di tengah perubahan pasar global.

Hal tersebut disampaikan Direktur Hubungan Masyarakat CNGR Indonesia, Magdalena Veronika, dalam Diskusi Publik bertajuk “Mengurai Risiko Pasar dalam Hilirisasi Mineral Kritis Indonesia: Membangun Rantai Pasok yang Tangguh” yang digelar Lembaga Pendidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEB Universitas Indonesia di Auditorium MPKP Universitas Indonesia, Jakarta, Selasa (18/8/2026).

Magdalena mengatakan industri pengolahan nikel tidak dapat hanya mengandalkan satu segmen pasar. Kemampuan beradaptasi terhadap perubahan kebutuhan konsumen internasional menjadi penting, mengingat produk olahan nikel tidak hanya digunakan untuk industri baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV), khususnya jenis NCM, tetapi juga untuk kebutuhan industri stainless steel.

“Industri tidak bisa hanya bergantung pada satu jalur produksi. Kita harus siap mengadopsi teknologi yang mampu menangkap variasi kebutuhan konsumen internasional,” ujar Magdalena.
Menurut dia, CNGR Indonesia terus mengembangkan teknologi pengolahan mineral untuk meningkatkan efisiensi sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya mineral.

Salah satu teknologi yang dikembangkan adalah teknologi pirometalurgi OESBF yang dapat mengolah lapisan bijih nikel transisi antara limonite dan saprolite. Teknologi tersebut dinilai membuka peluang peningkatan pemulihan mineral bernilai tinggi, termasuk kobalt, yang selama ini relatif sulit diekstraksi secara optimal menggunakan metode konvensional.
Namun, Magdalena menegaskan penguatan teknologi saja belum cukup. Ketahanan industri juga sangat bergantung pada kemampuan membangun rantai pasok yang mampu menghadapi berbagai gangguan eksternal.

Ia mencontohkan gangguan pasokan sulfur yang sempat terjadi akibat penutupan Selat Hormuz dan berdampak terhadap operasional fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL). Kondisi tersebut, kata dia, menjadi pelajaran penting bahwa industri harus memiliki sumber bahan baku alternatif serta sistem rantai pasok yang lebih adaptif terhadap gejolak geopolitik dan perubahan pasar global.

Karena itu, pengembangan R&D harus diarahkan hingga mampu diterapkan secara komersial. Eksplorasi sumber bahan baku alternatif juga perlu diperkuat, termasuk dengan memanfaatkan potensi produk samping dari pengolahan tembaga dan emas domestik.

“Kita selalu harus menyerap dan siap untuk mengatasi kondisi yang tidak terduga. Kita harus mengantongi R&D yang bukan cuma di atas meja, tetapi R&D yang memang bisa diindustrialisasikan,” tegasnya.

Waspadai Ancaman Teknologi Daur Ulang
Di tengah besarnya cadangan nikel Indonesia, Magdalena mengingatkan pelaku industri dan pemerintah agar tidak terlena dengan posisi Indonesia sebagai salah satu negara dengan sumber daya nikel terbesar di dunia.

Menurutnya, negara-negara Eropa dan Amerika Serikat kini semakin serius mengembangkan teknologi daur ulang limbah nikel industri untuk menghasilkan sumber daya alam sekunder.
Perkembangan tersebut berpotensi mengubah peta persaingan dan permintaan mineral kritis dunia dalam beberapa tahun ke depan.

“Jangan sampai kita merasa aman hanya karena memiliki cadangan nikel yang besar. Pasar akan terus berubah dan teknologi daur ulang dapat menjadi salah satu faktor yang menggeser pola permintaan global,” jelasnya.
Magdalena memperkirakan dalam tiga hingga lima tahun mendatang, kemampuan negara-negara maju mengolah kembali limbah industri menjadi bahan baku sekunder dapat semakin berkembang. Kondisi ini berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap negara-negara produsen bahan mentah.

Hilirisasi Butuh SDM Berkompetensi Tinggi
Selain teknologi dan rantai pasok, penguatan sumber daya manusia menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan industri hilirisasi mineral kritis.
Magdalena mengatakan industri membutuhkan tenaga ahli di bidang engineering dan metalurgi yang memiliki kompetensi serta standar keahlian tinggi.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, CNGR Indonesia turut mendukung pengembangan pendidikan melalui pendirian Program Studi Metalurgi serta pemberian beasiswa bagi kementerian terkait.

Menurutnya, investasi pada sumber daya manusia sama pentingnya dengan pembangunan fasilitas produksi.
“Keberlanjutan hilirisasi tidak hanya membutuhkan investasi pada fasilitas produksi, tetapi juga investasi pada sumber daya manusia,” ujarnya.

Minta Kebijakan Hilirisasi Konsisten
Lebih lanjut, Magdalena berharap kebijakan hilirisasi mineral yang telah berjalan dalam dua periode pemerintahan dapat terus dipertahankan secara konsisten.
Namun, konsistensi kebijakan tersebut harus tetap diiringi kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan ekonomi, teknologi, dan geopolitik global.

“Kalau harapan terkait dengan hilirisasi, tentunya konsistensi yang sudah berjalan dalam dua periode pemerintahan ini bisa terus berlangsung. Kemudian juga tentunya mengikuti dengan kondisi perkembangan global saat ini, terus update dan improve supaya investasi ini bisa terus sustainable,” ujar Magdalena.

Ia menilai kepastian kebijakan menjadi salah satu faktor penting bagi keberlanjutan investasi di sektor hilirisasi. Pelaku industri membutuhkan iklim usaha yang memungkinkan investasi jangka panjang sekaligus memberikan ruang untuk melakukan pembaruan teknologi.
Karena itu, sinergi antara pemerintah, regulator, perguruan tinggi, dan dunia industri perlu terus diperkuat agar agenda hilirisasi tidak berhenti pada pembangunan fasilitas pengolahan mineral.

Kolaborasi tersebut, kata Magdalena, harus diarahkan untuk membangun ekosistem industri yang mampu menghasilkan nilai tambah, menciptakan inovasi, memperkuat sumber daya manusia, serta memiliki daya tahan terhadap perubahan pasar global.
Dengan penguatan R&D yang berorientasi industrialisasi, diversifikasi teknologi, ketahanan rantai pasok, pengembangan SDM, dan kepastian iklim investasi, Indonesia dinilai memiliki peluang lebih besar untuk mempertahankan daya saing industri nikel sekaligus memperkuat posisinya dalam rantai pasok mineral kritis global.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *