Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
APOLEKSOSBUDEkonomi

Wira Raharja Menilai Pengembangan Infrastruktur LNG Membutuhkan Perencanaan Jangka Panjang, Dukungan Regulasi, Serta Investasi Yang Tidak Sedikit

2992
×

Wira Raharja Menilai Pengembangan Infrastruktur LNG Membutuhkan Perencanaan Jangka Panjang, Dukungan Regulasi, Serta Investasi Yang Tidak Sedikit

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Pilarnkri.com

 

Example 300x600

Jakarta – Pendiri sekaligus CEO PT Wira Energi, Wira Raharja, menyoroti pentingnya pembangunan infrastruktur terminal Liquefied Natural Gas (LNG) sebagai langkah strategis untuk mengoptimalkan potensi gas alam nasional. Menurutnya, Indonesia memiliki peluang besar untuk memperoleh manfaat ekonomi dari melimpahnya pasokan LNG yang diproyeksikan pada 2029, asalkan didukung infrastruktur distribusi yang memadai.

Hal tersebut disampaikan Wira Raharja dalam wawancara awak media pada kegiatan ASPEBINDO Energy Leadership & Business Conference 2026 bertema “Empowering Leader, Enabling Zero Emission”, di Auditorium Sumitro Djojohadikusumo Gedung BJ Habibie BRIN Jalan Thamrin Jakarta Pusat, (30/10/2026).

Wira menjelaskan, potensi LNG nasional seharusnya tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan ekspor, tetapi juga dimanfaatkan secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat dan sektor industri di dalam negeri.

Menurutnya, saat ini masih terdapat kendala dalam penyaluran gas dari sektor hulu (upstream) menuju konsumen akhir. Padahal, LNG memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan oleh berbagai sektor, mulai dari hotel, pusat perbelanjaan (mal), restoran, hingga pelanggan komersial dan industri skala menengah.

“Pada 2029, kita diperkirakan memiliki banyak LNG. Ini seharusnya menjadi peluang besar bagi Indonesia. Namun, bagaimana caranya agar gas dari upstream bisa dibawa sampai kepada konsumen, seperti hotel, mal, dan restoran? Persoalannya adalah infrastruktur dan jalur distribusinya belum tersedia secara memadai,” ungkap Wira.

Ia menilai, pembangunan terminal LNG menjadi salah satu solusi penting untuk membuka akses distribusi gas alam ke berbagai wilayah dan sektor pengguna energi. Terminal tersebut dapat berfungsi sebagai pintu masuk sekaligus penghubung antara sumber pasokan gas dengan kebutuhan konsumen domestik.

Wira juga menyoroti kondisi yang dinilai belum ideal, ketika Indonesia berpotensi mengekspor LNG yang dimiliki, tetapi pada saat bersamaan masih bergantung pada impor LPG untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

“Jangan sampai gas yang kita miliki justru diekspor, sementara untuk kebutuhan energi rumah tangga kita masih harus mengimpor LPG. Padahal, sebenarnya potensi gas nasional bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Karena itu, diperlukan infrastruktur yang mampu membawa energi tersebut sampai kepada masyarakat,” tegasnya.

Lebih lanjut, Wira menyampaikan bahwa PT Wira Energi sebagai perusahaan swasta yang bergerak di bidang niaga dan penyaluran gas alam serta LNG skala retail dan menengah, terbuka untuk menjalin kerja sama dengan pemerintah dalam mengembangkan ekosistem distribusi LNG nasional.

Ia mengatakan, pihaknya akan terus berupaya menjalankan kegiatan usaha dan mengembangkan peluang bisnis sembari menunggu arah kebijakan pemerintah terkait pembangunan infrastruktur energi ke depan.

“Kami sebagai pihak swasta tentu akan mencoba berjalan terlebih dahulu. Namun, kami sangat terbuka untuk bergandengan tangan dan berkolaborasi dengan pemerintah. Pekerjaan ini sangat besar sehingga tidak mungkin bisa dilakukan sendiri. Harus ada sinergi antara pemerintah dan sektor swasta,” jelasnya.

Menurut Wira, pengembangan infrastruktur LNG membutuhkan perencanaan jangka panjang, dukungan regulasi, serta investasi yang tidak sedikit. Oleh karena itu, keterlibatan pemerintah menjadi faktor penting agar potensi gas nasional benar-benar dapat dinikmati oleh masyarakat Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, Wira juga menekankan besarnya kebutuhan investasi untuk membangun terminal LNG. Ia memperkirakan pembangunan infrastruktur terminal LNG membutuhkan dana sekitar Rp8 triliun hingga Rp10 triliun.

Besarnya nilai investasi tersebut membuat pembangunan terminal LNG tidak mudah jika hanya mengandalkan kemampuan dan pembiayaan pihak swasta. Karena itu, ia berharap pemerintah dapat memberikan dukungan melalui alokasi anggaran negara, termasuk melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Harapan kami, ada dukungan anggaran pemerintah untuk membangun terminal LNG. Investasinya cukup besar, sekitar Rp8 triliun sampai Rp10 triliun. Kalau hanya menunggu pihak swasta, tentu tidak mudah karena tidak semua perusahaan memiliki kemampuan investasi sebesar itu,” paparnya.

Wira berharap, melalui pembangunan terminal LNG dan penguatan jaringan distribusi, Indonesia dapat mengoptimalkan kekayaan energi yang dimiliki untuk kepentingan nasional.

Ia juga mendorong agar momentum peningkatan potensi pasokan LNG pada 2029 menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk memperkuat kemandirian energi, mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG, serta mempercepat pemanfaatan gas alam sebagai bagian dari transformasi menuju energi yang lebih bersih.

“Ke depan, harapan kami LNG yang tersedia di Indonesia benar-benar bisa dimanfaatkan untuk kepentingan dalam negeri, bukan hanya untuk diekspor. Dengan infrastruktur yang memadai dan kolaborasi pemerintah bersama swasta, potensi energi nasional bisa memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat dan perekonomian Indonesia,” tutup Wira Raharja.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *